Intankalimantan.com
  • Beranda
  • Profil Intan
  • Berita
  • Gallery
    • Gambar
    • Video
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
Intankalimantan
  • Beranda
  • Profil Intan
  • Berita
  • Gallery
    • Gambar
    • Video
No Result
View All Result
Intankalimantan
No Result
View All Result
Home Berita

Tujuh Nelayan Tumpuan Penyelamatan Hutan Mangrove Singkawang

ridwannames@gmail.com by ridwannames@gmail.com
September 9, 2026
in Berita
57 5
0
Tujuh Nelayan Tumpuan Penyelamatan Hutan Mangrove Singkawang
74
SHARES
1.2k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Intan– Air asin dari laut setiap bulannya masuk ke perkampungan itu mengganggu ketersedia air bersih dikampung tersebut. Gelombang air laut membuat beberapa anak sungai baru yang menyebabkan air asin masuk  kepermukiman di Kelurahan Stapuk Besar ,Kecamatan Singkawang Utara, Kota Singkawang, Provinsi Kalimantan Barat.

You might also like

Krisis Air di Tengah Kepungan Karhutla, INTAN Distribusikan Air Bersih dan Perangkat Pemadaman

Pemuda Suti Semarang Budidayakan Tengkawang, Panen Raya Membawa Berkah

Panen Tengkawang Menyelamatkan Komunitas dari Bencana Kabut Asap

“Empat tahun lalu biasanya air asin masuk keperkampungan setahun sekali. Sekarang malah setiap bulan air asin masuk ke perkampungan,” tutur Abdul Malik salah satu tokoh masyarakat Setapuk Besar, kepada Borneoclimatechange.org, baru-baru ini.

Selain itu tanah disepanjang pantai sudah terkikis. Makin hari abrasi pantai semakin panjang. Tanah pantai tergerus oleh gelombang laut Cina Selatan. Sisa-sisa batang kelapa yang masih berdiri masih kelihatan yang menandakan bahwa kawasan perkebunan tersebut sudah mulai terkikis. Diperkirakan sudah sekitar 1,3 kilometer tanah perkebunan kelapa hilang karena abarasi yang disebabkan oleh gelombang air laut.

Jumadi (36) seorang nelayan setempat mengaku setiap hari keluar dari sungai Setapuk Besar menuju muara bahkan sampai ke laut Cina Selatan untuk mencari ikan. Setiap hari ia melihat keadaan pantai makin berkurang karena terkikis gelombang air laut.

Menurut dia, air asin intesitasnya makin sering masuk perkampungan di wilayahnya. Jumadi berpendapat, jika pantai dibiarkan terkikis terus oleh air laut, maka tidak ada orang yang mengatasi sudah dipastikan kebun dan permukiman akan tergerus oleh gelombag air laut.

Jumadi mengajak  para nelayan untuk menanam pohon bakau sekitar 100 nelayan. “Hanya dua orang saja yang mau ikut menanam pohon bakau, Syafrudin, dan Jojon,” katanya.

Ide awalnya dimulai dari bagunan sederhana tempat berkumpulnya para nelayan yang hanya beratap daun nipah. Yakni tempat para nelayan berkumpul.

Jumadi mangatakan pada Syafrudin, ”Kita tidak bisa membiarkan kampung kita  terkikis oleh ombak lama-lama. Rumah kita pun akan ikut hanyut diterpa oleh gelombang air laut,”.

“Sebaiknya kita menanam tanaman yang mampu menahan ombak ditepi pantai,” kata Jumadi pada saat ide muncul tersebut pada Syafrudin, kala itu.

Syafrudin merupakan salah tokoh nelayan yang dituakan menyetujui rencana penanam pohon bakau di Kelurahan Setapuk Besar. Mereka sempat bingung kemana mendapatkan bibit bakau, dan bagaimana cara menanamnya. Sebab, mereka belum pernah menanam pohon bakau.

“Pada saat itu kami tidak punya pengalaman untuk menam pohon bakau. Cari bibitnyapun bingung kemana. Karena pohon bakau di Setapok Besar sudah habis,” ucap Jumadi, mengenang masa lalunya itu.

Jumadi melanjutkan ceritanya,tidak sengaja didekat kampungnya ternyata masih ada tersisa sekitar tiga belas batang pohon. Akan tetapi saat itu pohon bakau masih belum berbuah. “Saya, Jojon, dan Syafrudin menunggun pohon bakau berbuah,” kata Jumadi.

Sambil menunggu pohon bakau berbuah, Syafrudin, dan Jumadi minta ijin kepada warga yang memiliki lahan. Karena sebelum abrasi, lahan yang luasnya sekitar 1.500 hektar itu merupakan perkebunan kelapa.

“Kami datang ke rumah-rumah warga pemilik lahan. Mereka setuju asal tanaman bakaunya dipelihara,” jelas Jumadi. “Jangan asal ditanam, percuma aja,” pesan warga kepada Syafrudin, saat itu yang mengaku sebagai pemilik lahan.

Beberapa bulan menunggu, pohon bakau berbuah. Mulai bisa dipanen. Jumadi, Jojon, dan Syafrudin mengambil buah bakau satu persatu maka terkumpulah sekitar 3.762 buah pohon bakau.

Sebelum turun ke pantai mereka menyiapkan perlengkapan, seperti bambu sebagai tiang pengikat buah bakau, dan tali rapi seadanya.

 

Setelah perlengkapan sudah lengkap, pada Senin, 2 Juli 2011, mereka pergi ke pantai Setapuk Besar dengan membawa buah pohon bakau, tanpa disemai dulu, mereka bertiga Jumadi, Jojon, dan Syafrudin.

Pada saat kelapangan mereka dicemooh oleh sejumlah nelayan yang sedang berada di seteher Setapok Besar. Ketika melihat Jumadi, Jojon, dan Syafrudin pergi ke pantai membawa buah bakau untuk ditanam.

“Abang na ke kebon kelapa keh?, Kenape bawa buah bakau mang tumbuh,” kenang Jumadi.

Mereka tidak memperdulikan cemooh ratusan nelayan yang biasa duduk-duduk diseteher Setapuk Besar. Mereka bertertekad bulatt pergi ke pantai untuk menanam buah-buah bakau yang sudah dikumpulkanya.

Setelah sampai di pantai yang berlumpur, mereka bertiga mulai menancapkan satu persatu buah bakau dalam lumpur. Setelah buah bakau ditancapkan ke dalam lumpur, selanjutnya diikat pada bambu dengan tali rapia supaya tidak hanyut ketika diterpa gelombang.

“Orang yang paling semangat Jojon. Dia berlumpur-lumpu menancapkan buah bakau ke lumpur, kebetulan lupurnya pada saat itu se paha dewasa,” kata Syafrudin, setelah tanaman bakau pada saat itu.

Setelah bibit bakau ditanam  setiap minggu, ia bersama temannya melakukan penyapihan. “Bibit bakau yang hanyut dibawa gelombong kami tanam kembali,”.

…………………………………

Bakau mulai tumbuh

Jumadi menceritakan, setelah tiga bulan buah bakau yang ditanam mulai  tumbuh daun, mereka bertiga mulai bahagia dan optimis.

“Kami tidak menyangka buah kami yang kami tanam bisa tumbuh. Karena kami hanya menanam bijinya.  Kalau melihat orangkan umunya dimasukan ke poliback setelah besar baru ditanam di pantai,” kata Jumadi, bangga.

“Kami sangat bahagia setelah tumbuhan bakau itu tumbuh mulai berdaun,kami tidak menyangka tanaman bakau yang kami tanam bisa tumbuh,” lanjut Jumadi.

Setiap hari,jika ada waktu luang mereka ke pantai untuk memeriksa tanaman bakau. Tujuannya tiada lain, membersihkan gulma-gulma seperti akar atau sampah yang hanyut ditepian pantai yang menganggu pertumbuhan tanaman bakau.

“Setiap hari Jum’at kami bertiga pasti ke pantai  untuk bersih dan menyapih tanaman bakau. Kalau ada yang hanyut terbawa gelombang air laut, kita tanam kembali,” kata Jumadi.

Setelah pohon bakau tumbuh, empat nelayan lain tertarik  begabung dengan menanam pohon bakau, mereka adalah Kosim, Rambi, Munir, dan Susterdi.

Rambi (55) mengatakan,”Saya tertarik menanam bakau karena tanggung jawab pada anak cucu. Dengan menanam pohon bakau pantai tidak terkikis lagi. Gelombang air laut tidak masuk lagi ke Kampung,”.

Jumadi dengan bantuan enam kawannya telah menanam sekitar 36.000. Pohon bakau, setiap mereka menanam dicatat. Mulai  jumlah, dan waktu menanam dibuku catatan khusus waktu menanam, dimulai  Senin 2 Juli 2011 berjumlah 3762 batang, pada Juma’at 17 Oktober 2011 berjumlah 1.424buah bakau, pada Minggu 22 Januari 2012 berjumlah 3.502 buah bakau, pada Minggu 14 Oktober 2012 berjumlah 1892 buah bakau, Senin 14 Januari 20013 berjumlah 2000 buah bakau, Minggu 10 Febuari 2013 berjumlah 1538 buah bakau, Kamis 25 April 2013 berjumlah 2442 buah bakau, Minggu 1 Desember 2013 berjumlah 7000 buah bakau,  d 4 Febuari 2014 315 buah bakau, Jum’at 7 Maret 2014 2673 7000 buah bakau, Minggu 19 Maret 2014 2183 7000 buah bakau,dan Sabtu 27 maret 2014 2364 7000 buah bakau, 2025 sudah sekitar 40000 batang bakau ditanamnya.

Buah bakau yang ditanam tujuh nelaya mulai tumbuh menjadi pohon dengan ketingian rata-rata berukuran 1 meter-2,5 meter. Ketujuh nelayan itu tetap kompak memeliharanya. Setiap Jum’at mereka selalu ke pantai melihat dan memeliharan tanaman bakau.

“Kalau ada yang mati mereka ganti dengan bibit baru. Sekarang pantai yang dulunya terkikis mulai tertupi lumpur kembali,karena bakau sudah tumbuh dengan baik,dan akarnya mampu menahan gelombang,” jelas Jumadi.

Mereka yakin 1,5 kilometer tanah perkebunan di pantai yang sempat hilang akan kembali lagi. Terpaan gelombang tidak akan menyebakan tanah di pantai Setapuk Besar mengalami abrasi lagi. Ikan,udang, kepiting, burung yang sempat hilang sudah mulai datang kembali.

“Walaupun kami tidak ada bantuan dari siapapun, kami tetap bersemangat menanam pohon bakau. Ini merupaka sedekah kami untuk bumi, buat manusia juga. Kita tidak mampu sedekah uang, dengan pohon pun Alhamdulillah,” kata Rambi yang merupakan anggota paling tua diantara tujuh nelayan menanam mangrove di pantai Setapok Besar. Semoga lestar

Share30Tweet19
ridwannames@gmail.com

ridwannames@gmail.com

Recommended For You

Krisis Air di Tengah Kepungan Karhutla, INTAN Distribusikan Air Bersih dan Perangkat Pemadaman

by ridwannames@gmail.com
Oktober 5, 2026
0
Krisis Air di Tengah Kepungan Karhutla, INTAN Distribusikan Air Bersih dan Perangkat Pemadaman

KALIMANTAN BARAT — Ketika kebakaran hutan dan lahan melanda sejumlah wilayah di Kalimantan Barat, persoalan yang muncul bukan hanya asap dan rusaknya kawasan hutan. Di sejumlah daerah, masyarakat...

Read more

Pemuda Suti Semarang Budidayakan Tengkawang, Panen Raya Membawa Berkah

by ridwannames@gmail.com
Oktober 5, 2026
0
Pemuda Suti Semarang Budidayakan Tengkawang, Panen Raya Membawa Berkah

BENGKAYANG — Musim panen raya buah tengkawang di Kecamatan Suti Semarang, Kabupaten Bengkayang, menjadi kabar baik bagi masyarakat. Buah yang selama ini tumbuh di kawasan hutan dan menjadi...

Read more

Panen Tengkawang Menyelamatkan Komunitas dari Bencana Kabut Asap

by ridwannames@gmail.com
Oktober 4, 2026
0
Panen Tengkawang Menyelamatkan Komunitas dari Bencana Kabut Asap

Di tengah fenomena El Niño yang melanda Kalimantan Barat dan meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, musim panen buah tengkawang justru menjadi berkah bagi masyarakat adat di sejumlah...

Read more

INTAN Salurkan Bantuan Alat Pemadam Kebakaran untuk Lindungi Hutan Gambut Kalibadung

by ridwannames@gmail.com
September 9, 2026
0
INTAN Salurkan Bantuan Alat Pemadam Kebakaran untuk Lindungi Hutan Gambut Kalibadung

KUBU RAYA, KALIMANTAN BARAT — Ketika musim kemarau tiba, masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan gambut kembali dihadapkan pada ancaman yang sama: kebakaran hutan dan lahan. Api...

Read more
Next Post
Legenda Buah Tengkawang

Legenda Buah Tengkawang

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related News

INTAN Salurkan Bantuan Alat Pemadam Kebakaran untuk Lindungi Hutan Gambut Kalibadung

INTAN Salurkan Bantuan Alat Pemadam Kebakaran untuk Lindungi Hutan Gambut Kalibadung

September 9, 2026
Krisis Air di Tengah Kepungan Karhutla, INTAN Distribusikan Air Bersih dan Perangkat Pemadaman

Krisis Air di Tengah Kepungan Karhutla, INTAN Distribusikan Air Bersih dan Perangkat Pemadaman

Oktober 5, 2026
Damianus Nadu :Penerima Kalpataru dari H  utan Adat Pikul-Pangajid

Damianus Nadu :Penerima Kalpataru dari H utan Adat Pikul-Pangajid

September 9, 2026

Browse by Category

  • Berita
  • Gallery
  • Hutan
  • Uncategorized
  • Video
  • Home
  • Profil Intan
Call us: c

© 2026 intankalimantan.com

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Profil Intan
  • Berita
  • Gallery
    • Gambar
    • Video

© 2026 intankalimantan.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?