Intan– Air asin dari laut setiap bulannya masuk ke perkampungan itu mengganggu ketersedia air bersih dikampung tersebut. Gelombang air laut membuat beberapa anak sungai baru yang menyebabkan air asin masuk kepermukiman di Kelurahan Stapuk Besar ,Kecamatan Singkawang Utara, Kota Singkawang, Provinsi Kalimantan Barat.
“Empat tahun lalu biasanya air asin masuk keperkampungan setahun sekali. Sekarang malah setiap bulan air asin masuk ke perkampungan,” tutur Abdul Malik salah satu tokoh masyarakat Setapuk Besar, kepada Borneoclimatechange.org, baru-baru ini.
Selain itu tanah disepanjang pantai sudah terkikis. Makin hari abrasi pantai semakin panjang. Tanah pantai tergerus oleh gelombang laut Cina Selatan. Sisa-sisa batang kelapa yang masih berdiri masih kelihatan yang menandakan bahwa kawasan perkebunan tersebut sudah mulai terkikis. Diperkirakan sudah sekitar 1,3 kilometer tanah perkebunan kelapa hilang karena abarasi yang disebabkan oleh gelombang air laut.
Jumadi (36) seorang nelayan setempat mengaku setiap hari keluar dari sungai Setapuk Besar menuju muara bahkan sampai ke laut Cina Selatan untuk mencari ikan. Setiap hari ia melihat keadaan pantai makin berkurang karena terkikis gelombang air laut.
Menurut dia, air asin intesitasnya makin sering masuk perkampungan di wilayahnya. Jumadi berpendapat, jika pantai dibiarkan terkikis terus oleh air laut, maka tidak ada orang yang mengatasi sudah dipastikan kebun dan permukiman akan tergerus oleh gelombag air laut.
Jumadi mengajak para nelayan untuk menanam pohon bakau sekitar 100 nelayan. “Hanya dua orang saja yang mau ikut menanam pohon bakau, Syafrudin, dan Jojon,” katanya.
Ide awalnya dimulai dari bagunan sederhana tempat berkumpulnya para nelayan yang hanya beratap daun nipah. Yakni tempat para nelayan berkumpul.
Jumadi mangatakan pada Syafrudin, ”Kita tidak bisa membiarkan kampung kita terkikis oleh ombak lama-lama. Rumah kita pun akan ikut hanyut diterpa oleh gelombang air laut,”.
“Sebaiknya kita menanam tanaman yang mampu menahan ombak ditepi pantai,” kata Jumadi pada saat ide muncul tersebut pada Syafrudin, kala itu.
Syafrudin merupakan salah tokoh nelayan yang dituakan menyetujui rencana penanam pohon bakau di Kelurahan Setapuk Besar. Mereka sempat bingung kemana mendapatkan bibit bakau, dan bagaimana cara menanamnya. Sebab, mereka belum pernah menanam pohon bakau.
“Pada saat itu kami tidak punya pengalaman untuk menam pohon bakau. Cari bibitnyapun bingung kemana. Karena pohon bakau di Setapok Besar sudah habis,” ucap Jumadi, mengenang masa lalunya itu.
Jumadi melanjutkan ceritanya,tidak sengaja didekat kampungnya ternyata masih ada tersisa sekitar tiga belas batang pohon. Akan tetapi saat itu pohon bakau masih belum berbuah. “Saya, Jojon, dan Syafrudin menunggun pohon bakau berbuah,” kata Jumadi.
Sambil menunggu pohon bakau berbuah, Syafrudin, dan Jumadi minta ijin kepada warga yang memiliki lahan. Karena sebelum abrasi, lahan yang luasnya sekitar 1.500 hektar itu merupakan perkebunan kelapa.
“Kami datang ke rumah-rumah warga pemilik lahan. Mereka setuju asal tanaman bakaunya dipelihara,” jelas Jumadi. “Jangan asal ditanam, percuma aja,” pesan warga kepada Syafrudin, saat itu yang mengaku sebagai pemilik lahan.
Beberapa bulan menunggu, pohon bakau berbuah. Mulai bisa dipanen. Jumadi, Jojon, dan Syafrudin mengambil buah bakau satu persatu maka terkumpulah sekitar 3.762 buah pohon bakau.
Sebelum turun ke pantai mereka menyiapkan perlengkapan, seperti bambu sebagai tiang pengikat buah bakau, dan tali rapi seadanya.
Setelah perlengkapan sudah lengkap, pada Senin, 2 Juli 2011, mereka pergi ke pantai Setapuk Besar dengan membawa buah pohon bakau, tanpa disemai dulu, mereka bertiga Jumadi, Jojon, dan Syafrudin.
Pada saat kelapangan mereka dicemooh oleh sejumlah nelayan yang sedang berada di seteher Setapok Besar. Ketika melihat Jumadi, Jojon, dan Syafrudin pergi ke pantai membawa buah bakau untuk ditanam.
“Abang na ke kebon kelapa keh?, Kenape bawa buah bakau mang tumbuh,” kenang Jumadi.
Mereka tidak memperdulikan cemooh ratusan nelayan yang biasa duduk-duduk diseteher Setapuk Besar. Mereka bertertekad bulatt pergi ke pantai untuk menanam buah-buah bakau yang sudah dikumpulkanya.
Setelah sampai di pantai yang berlumpur, mereka bertiga mulai menancapkan satu persatu buah bakau dalam lumpur. Setelah buah bakau ditancapkan ke dalam lumpur, selanjutnya diikat pada bambu dengan tali rapia supaya tidak hanyut ketika diterpa gelombang.
“Orang yang paling semangat Jojon. Dia berlumpur-lumpu menancapkan buah bakau ke lumpur, kebetulan lupurnya pada saat itu se paha dewasa,” kata Syafrudin, setelah tanaman bakau pada saat itu.
Setelah bibit bakau ditanam setiap minggu, ia bersama temannya melakukan penyapihan. “Bibit bakau yang hanyut dibawa gelombong kami tanam kembali,”.
…………………………………
Bakau mulai tumbuh
Jumadi menceritakan, setelah tiga bulan buah bakau yang ditanam mulai tumbuh daun, mereka bertiga mulai bahagia dan optimis.
“Kami tidak menyangka buah kami yang kami tanam bisa tumbuh. Karena kami hanya menanam bijinya. Kalau melihat orangkan umunya dimasukan ke poliback setelah besar baru ditanam di pantai,” kata Jumadi, bangga.
“Kami sangat bahagia setelah tumbuhan bakau itu tumbuh mulai berdaun,kami tidak menyangka tanaman bakau yang kami tanam bisa tumbuh,” lanjut Jumadi.
Setiap hari,jika ada waktu luang mereka ke pantai untuk memeriksa tanaman bakau. Tujuannya tiada lain, membersihkan gulma-gulma seperti akar atau sampah yang hanyut ditepian pantai yang menganggu pertumbuhan tanaman bakau.
“Setiap hari Jum’at kami bertiga pasti ke pantai untuk bersih dan menyapih tanaman bakau. Kalau ada yang hanyut terbawa gelombang air laut, kita tanam kembali,” kata Jumadi.
Setelah pohon bakau tumbuh, empat nelayan lain tertarik begabung dengan menanam pohon bakau, mereka adalah Kosim, Rambi, Munir, dan Susterdi.
Rambi (55) mengatakan,”Saya tertarik menanam bakau karena tanggung jawab pada anak cucu. Dengan menanam pohon bakau pantai tidak terkikis lagi. Gelombang air laut tidak masuk lagi ke Kampung,”.
Jumadi dengan bantuan enam kawannya telah menanam sekitar 36.000. Pohon bakau, setiap mereka menanam dicatat. Mulai jumlah, dan waktu menanam dibuku catatan khusus waktu menanam, dimulai Senin 2 Juli 2011 berjumlah 3762 batang, pada Juma’at 17 Oktober 2011 berjumlah 1.424buah bakau, pada Minggu 22 Januari 2012 berjumlah 3.502 buah bakau, pada Minggu 14 Oktober 2012 berjumlah 1892 buah bakau, Senin 14 Januari 20013 berjumlah 2000 buah bakau, Minggu 10 Febuari 2013 berjumlah 1538 buah bakau, Kamis 25 April 2013 berjumlah 2442 buah bakau, Minggu 1 Desember 2013 berjumlah 7000 buah bakau, d 4 Febuari 2014 315 buah bakau, Jum’at 7 Maret 2014 2673 7000 buah bakau, Minggu 19 Maret 2014 2183 7000 buah bakau,dan Sabtu 27 maret 2014 2364 7000 buah bakau, 2025 sudah sekitar 40000 batang bakau ditanamnya.
Buah bakau yang ditanam tujuh nelaya mulai tumbuh menjadi pohon dengan ketingian rata-rata berukuran 1 meter-2,5 meter. Ketujuh nelayan itu tetap kompak memeliharanya. Setiap Jum’at mereka selalu ke pantai melihat dan memeliharan tanaman bakau.
“Kalau ada yang mati mereka ganti dengan bibit baru. Sekarang pantai yang dulunya terkikis mulai tertupi lumpur kembali,karena bakau sudah tumbuh dengan baik,dan akarnya mampu menahan gelombang,” jelas Jumadi.
Mereka yakin 1,5 kilometer tanah perkebunan di pantai yang sempat hilang akan kembali lagi. Terpaan gelombang tidak akan menyebakan tanah di pantai Setapuk Besar mengalami abrasi lagi. Ikan,udang, kepiting, burung yang sempat hilang sudah mulai datang kembali.
“Walaupun kami tidak ada bantuan dari siapapun, kami tetap bersemangat menanam pohon bakau. Ini merupaka sedekah kami untuk bumi, buat manusia juga. Kita tidak mampu sedekah uang, dengan pohon pun Alhamdulillah,” kata Rambi yang merupakan anggota paling tua diantara tujuh nelayan menanam mangrove di pantai Setapok Besar. Semoga lestar








