BENGKAYANG — Musim panen raya buah tengkawang di Kecamatan Suti Semarang, Kabupaten Bengkayang, menjadi kabar baik bagi masyarakat. Buah yang selama ini tumbuh di kawasan hutan dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat kini memberikan nilai ekonomi yang semakin menjanjikan.
Saat musim berbuah tiba, masyarakat berbondong-bondong mengumpulkan buah tengkawang yang jatuh secara alami di bawah pohonnya. Buah tersebut kemudian dikeringkan dan dijual kepada pembeli. Bagi masyarakat, panen tengkawang bukan hanya tentang mengumpulkan buah dari hutan, tetapi juga menjadi sumber pendapatan tambahan bagi keluarga.
Namun, bagi kalangan pemuda Suti Semarang, potensi tengkawang tidak berhenti pada kegiatan memanen. Mereka mulai melihat pentingnya membangun kembali populasi pohon tengkawang melalui budidaya dan penanaman.
Wahyu Agung, tokoh pemuda Suti Semarang sekaligus alumni Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura (Fahutan Untan), mengatakan bahwa pemuda bersama masyarakat perlu mendorong budidaya tengkawang agar keberadaan pohon tersebut terus terjaga.
“Selain memanen buah tengkawang, kita juga mendorong masyarakat untuk membudidayakan tengkawang dengan memperbanyak tanaman tengkawang. Karena itu, kami bersama pemuda-pemuda Suti Semarang melakukan pembudidayaan kembali pohon tengkawang,” ujar Wahyu.
Menurutnya, upaya memperbanyak tanaman tengkawang merupakan investasi jangka panjang. Pohon yang ditanam hari ini akan menjadi sumber manfaat bagi generasi mendatang, baik dari sisi ekonomi maupun ekologis.
Wahyu juga menilai tengkawang memiliki posisi istimewa bagi Kalimantan Barat. Selain mempunyai nilai ekonomi dari buah dan berbagai produk turunannya, tengkawang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dan ekosistem hutan.
“Apalagi tengkawang merupakan salah satu maskot Kalimantan Barat. Karena itu, kita harus menjaga dan memperbanyaknya. Jangan sampai generasi mendatang hanya mengenal tengkawang dari cerita, tetapi tidak lagi melihat pohonnya di hutan,” katanya.
Gerakan yang dilakukan pemuda Suti Semarang menjadi bagian penting dari upaya menghubungkan ekonomi masyarakat dengan pelestarian hutan. Semakin tinggi nilai ekonomi buah tengkawang, semakin besar pula peluang masyarakat untuk mendapatkan manfaat dari hutan tanpa harus merusaknya.
Bagi pemuda, tengkawang juga membuka ruang untuk membangun usaha berbasis hasil hutan bukan kayu. Buah yang dipanen tidak harus berhenti sebagai komoditas mentah, tetapi dapat dikembangkan menjadi berbagai produk olahan yang memiliki nilai tambah.
Panen raya tahun ini akhirnya bukan sekadar musim mendapatkan penghasilan. Ia menjadi pengingat bahwa kekayaan hutan dapat memberikan berkah ketika dikelola secara bijaksana.
Dari Suti Semarang, semangat itu tumbuh: memanen tengkawang untuk mendapatkan manfaat hari ini, sekaligus menanam kembali untuk menjaga hutan dan ekonomi masyarakat di masa depan.








