KALIMANTAN BARAT — Ketika kebakaran hutan dan lahan melanda sejumlah wilayah di Kalimantan Barat, persoalan yang muncul bukan hanya asap dan rusaknya kawasan hutan. Di sejumlah daerah, masyarakat juga menghadapi persoalan yang tidak kalah serius: krisis air bersih.
Musim kemarau yang panjang membuat sumber-sumber air masyarakat semakin terbatas. Di beberapa wilayah pedalaman, warga bahkan harus menghadapi kesulitan mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari, sementara di lokasi lain masyarakat dan kelompok pemadam membutuhkan peralatan untuk menghadapi kebakaran hutan dan lahan.
Situasi tersebut mendorong Institut Riset dan Pengembangan Teknologi Hasil Hutan (INTAN) untuk turut bergerak menyalurkan bantuan kepada masyarakat dan kelompok yang terdampak.
Bantuan tidak hanya berupa air bersih, tetapi juga peralatan pemadaman kebakaran, alat komunikasi, perlengkapan perlindungan diri, hingga logistik bagi masyarakat.

Di Desa Kalibadung, bantuan yang disalurkan antara lain satu set mesin pemadam kebakaran, pipa sepanjang sekitar 600 meter, serta empat unit alat komunikasi handy talky (HT). Peralatan tersebut diharapkan dapat memperkuat kemampuan masyarakat dalam merespons kebakaran yang terjadi di sekitar wilayah mereka.
Bantuan serupa juga disalurkan ke Desa Mangkalan Jambu, berupa satu set mesin pemadam, masker, vitamin, dan berbagai kebutuhan logistik lainnya bagi masyarakat yang terdampak.
Sementara itu, dukungan untuk penanganan kebakaran juga diberikan ke wilayah Kayong Utara dalam bentuk logistik pemadaman.
Untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi kebakaran, INTAN juga mendistribusikan tangki air portabel berkapasitas 2.500 liter kepada KPH Kubu Raya. Sarana ini diharapkan dapat membantu penyediaan air dalam kegiatan pemadaman di lapangan.
Air Bersih untuk Masyarakat Pedalaman Di tengah berbagai bantuan untuk penanganan kebakaran, INTAN juga memberikan perhatian terhadap masyarakat yang mengalami kesulitan memperoleh air bersih.
Di sejumlah wilayah pedalaman Kabupaten Ketapang, masyarakat menghadapi krisis air akibat kemarau panjang. Distribusi air bersih dilakukan ke beberapa lokasi, di antaranya Dusun Ibul Baru, Air Durian Jaya, dan sejumlah wilayah lainnya yang mengalami keterbatasan sumber air.
Bagi masyarakat di wilayah tersebut, bantuan air bersih bukan sekadar bantuan biasa. Air menjadi kebutuhan mendasar yang menentukan keberlangsungan aktivitas sehari-hari.
“Kami merasa terbantu dengan adanya bantuan ini karena daerah kami benar-benar mengalami krisis air.”
Ungkapan tersebut menggambarkan kondisi masyarakat yang harus berhadapan langsung dengan dampak kekeringan.
Solidaritas di Tengah Bencana
Bantuan yang disalurkan INTAN berasal dari dukungan berbagai pihak dan para donatur. Salah satunya berasal dari kampanye GoFundMe yang digalang oleh Audrey Sun, yang kemudian digunakan untuk membantu masyarakat menghadapi dampak kebakaran hutan dan lahan serta krisis air di Kalimantan Barat.
Dukungan tersebut menjadi bagian dari solidaritas lintas wilayah untuk masyarakat yang berada di garis depan menghadapi dampak bencana lingkungan.
Bagi INTAN, penanganan kebakaran hutan dan lahan tidak dapat hanya dilihat dari aspek pemadaman api. Ketika hutan terbakar dan musim kemarau berkepanjangan, masyarakat di sekitar kawasan terdampak juga menghadapi persoalan air, kesehatan, pangan, dan keberlangsungan ekonomi.
Karena itu, respons terhadap bencana harus dilakukan secara bersamaan: memadamkan api, melindungi masyarakat, menyediakan air bersih, sekaligus memperkuat kemampuan masyarakat menghadapi bencana.
Krisis air yang terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan Barat menjadi pengingat bahwa kerusakan lingkungan dan perubahan kondisi iklim memiliki dampak langsung terhadap kehidupan masyarakat.
Di tengah kondisi tersebut, gotong royong menjadi sangat penting. Bantuan peralatan pemadaman dapat memperkuat masyarakat menghadapi api, sementara distribusi air bersih membantu mereka bertahan menghadapi kekeringan.
Dari air untuk kehidupan hingga peralatan untuk memadamkan api, bantuan tersebut menjadi bentuk nyata kepedulian terhadap masyarakat Kalimantan Barat yang sedang menghadapi tekanan akibat kebakaran hutan, lahan, dan krisis air.







