Di tengah fenomena El Niño yang melanda Kalimantan Barat dan meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, musim panen buah tengkawang justru menjadi berkah bagi masyarakat adat di sejumlah wilayah. Musim tengkawang berlangsung di beberapa daerah, antara lain Landak, Senakin, Darit, dan Selimbau, serta wilayah Sungai Betung di Bengkayang dan Ensiap, Sadaniang, Kabupaten Mempawah.
Musim kemarau yang panjang telah memberikan tekanan besar terhadap kehidupan masyarakat. Ketersediaan air menurun, aktivitas pertanian terganggu, dan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan menyebabkan sebagian hasil pertanian mengalami penurunan bahkan gagal panen. Dalam kondisi tersebut, panen tengkawang menjadi salah satu sumber pendapatan penting bagi masyarakat adat.
Melalui kegiatan panen dan pengorganisasian yang dilakukan oleh Perkumpulan INTAN, masyarakat berhasil mengumpulkan sekitar 90 ton buah tengkawang kering, atau setara dengan sekitar 230 ton buah tengkawang basah. Buah tengkawang tersebut kemudian dibeli dan disalurkan ke Koperasi Tengkawang Layar, sebuah unit usaha yang dikelola oleh masyarakat untuk mengembangkan pengolahan dan hilirisasi produk tengkawang.
Bagi masyarakat, kegiatan ini bukan hanya memberikan tambahan pendapatan, tetapi juga menjadi sumber penghidupan alternatif ketika sektor pertanian mengalami tekanan akibat musim kemarau, kekeringan, dan kabut asap.
Salah seorang warga, Yohanes, mengatakan bahwa panen tengkawang sangat membantu masyarakat di tengah menurunnya hasil pertanian.
“Ini sangat membantu kami, terutama di tengah menurunnya hasil panen pertanian. Dengan adanya tengkawang, kami masih memiliki sumber pendapatan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.”
Panen tengkawang menunjukkan bahwa hutan bukan hanya memiliki nilai ekologis, tetapi juga menjadi sumber ketahanan ekonomi dan sosial bagi masyarakat adat. Ketika masyarakat memperoleh manfaat ekonomi langsung dari pohon tengkawang dan hutan yang mereka kelola, keberadaan hutan menjadi semakin penting untuk dijaga.
Dengan demikian, panen tengkawang bukan sekadar kegiatan ekonomi, tetapi juga bagian dari strategi masyarakat adat untuk bertahan menghadapi dampak perubahan iklim, kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, serta bencana kabut asap. Menjaga pohon tengkawang berarti menjaga sumber pangan, pendapatan, dan masa depan masyarakat sekaligus mempertahankan hutan sebagai penyangga kehidupan.









